Pernah Dengar Istilah Catcalling ? Ini Makna, Asal-usul dan Dampak yang ditimbulkan!

Ilustrasi Catcalling /aa/id

Inilahdepok.id – Catcalling adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tindakan pelecehan verbal di ruang publik, biasanya berupa komentar, siulan, atau gestur yang tidak diinginkan dan ditujukan kepada seseorang, seringkali kepada perempuan.

Meskipun terlihat sederhana, tindakan ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan, rasa takut, dan bahkan trauma bagi korbannya.

Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam tentang arti catcalling, asal-usul istilah ini, serta dampaknya dalam masyarakat.

Makna Kata Catcalling

Secara harfiah, catcalling berarti memanggil seseorang seperti memanggil kucing (cat berarti kucing dalam bahasa Inggris).

Namun, dalam konteks sosial, istilah ini merujuk pada tindakan seseorang, biasanya pria, yang memberikan komentar atau gestur kepada wanita secara tidak sopan atau bersifat seksual.

Contoh bentuk catcalling meliputi:

  • Siulan atau panggilan seperti “ssst” atau “hey, cantik.”
  • Komentar tentang tubuh atau penampilan seseorang.
  • Ucapan bernada seksual, seperti “Senangnya lihat kamu jalan di sini.”
  • Isyarat tubuh, seperti menjulurkan lidah atau gestur tidak pantas lainnya.
Baca Juga :  Tradisi Baju Baru Saat Lebaran: Makna, Sejarah, dan Perkembangannya di Era Modern

Asal-Usul Istilah Catcalling

Istilah catcalling berasal dari pertunjukan teater di abad ke-17 di mana penonton yang tidak puas akan mengejek aktor dengan suara siulan keras, mirip dengan cara memanggil kucing.

Namun, dalam perkembangannya, istilah ini kemudian digunakan untuk menggambarkan bentuk pelecehan verbal di ruang publik yang merendahkan martabat seseorang.

Dampak Catcalling

Catcalling mungkin dianggap oleh sebagian orang sebagai bentuk “pujian,” namun bagi korbannya, ini adalah pengalaman yang tidak menyenangkan dan bahkan mengintimidasi.

Berikut adalah beberapa dampaknya:

  1. Ketidaknyamanan dan Ketakutan
    Korban sering merasa tidak nyaman dan takut saat menjadi sasaran catcalling, terutama jika dilakukan oleh sekelompok orang atau di tempat yang sepi.
  2. Pelecehan Psikologis
    Mendengar komentar atau siulan yang tidak diinginkan dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan penurunan rasa percaya diri.
  3. Membatasi Kebebasan
    Banyak korban yang merasa perlu menghindari tempat tertentu atau mengubah cara berpakaian untuk mengurangi risiko menjadi sasaran catcalling.
  4. Normalisasi Pelecehan
    Ketika tindakan ini dianggap wajar, itu dapat memperkuat budaya pelecehan yang mengabaikan hak individu atas rasa aman di ruang publik.
Baca Juga :  Makna, Filosofi, Kegunaan Kembang 7 Rupa dan Kepercayaan di Masyarakat

Bagaimana Mengatasi dan Menghentikan Catcalling

Mengatasi catcalling memerlukan kesadaran kolektif untuk mengubah pola pikir masyarakat dan memastikan bahwa ruang publik aman untuk semua orang. Beberapa langkah yang bisa diambil adalah:

  1. Pendidikan dan Kesadaran
    Edukasi tentang pelecehan seksual sejak dini, baik di rumah maupun di sekolah, dapat membantu mengurangi kasus catcalling.
  2. Hukum dan Kebijakan
    Beberapa negara telah mengatur pelecehan verbal di ruang publik sebagai tindakan yang melanggar hukum. Di Indonesia, pelecehan seksual termasuk dalam lingkup hukum yang dapat dikenakan sanksi pidana.
  3. Teguran dan Solidaritas
    Jika Anda menyaksikan catcalling, tegurlah pelaku dengan cara yang aman, atau tunjukkan solidaritas kepada korban dengan mendukungnya.
  4. Melapor
    Korban atau saksi dapat melaporkan tindakan pelecehan ke pihak berwenang, terutama jika catcalling mengarah pada ancaman yang lebih serius.
Baca Juga :  Natal: Makna, Tradisi, dan Perayaan Umat Kristiani

Kesimpulan

Catcalling bukanlah bentuk pujian, melainkan pelecehan verbal yang merendahkan martabat seseorang.

Untuk menciptakan ruang publik yang aman dan inklusif, semua pihak harus terlibat dalam menghentikan tindakan ini.

Kesadaran, edukasi, dan hukum yang tegas adalah langkah penting untuk mengurangi dan mencegah catcalling di masyarakat.

Dengan memahami dampaknya, kita dapat lebih peka terhadap pengalaman orang lain dan menciptakan lingkungan yang lebih menghormati hak asasi setiap individu.