Dulu Pinggiran, Kini Jadi Incaran Pengembang: Bojongsari Menuju Pusat Baru Kota Depok
- account_circle Aditya Rahman
- calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
- print Cetak

Shila at Sawangan jalan raya bojongsari ( foto: Instagram )
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
InilahDepok.id – Wajah Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, terus mengalami perubahan.
Kawasan yang sebelumnya identik dengan permukiman, lahan kosong, kebun dan suasana pinggiran kota, kini semakin ramai dengan pembangunan berbagai proyek perumahan.
Menariknya, perumahan yang hadir bukan hanya menyasar satu segmen pasar.
Mulai dari hunian sederhana dan rumah komersial untuk masyarakat kelas menengah, hingga kawasan perumahan dengan konsep modern dan fasilitas yang lebih lengkap, kini mulai bermunculan di berbagai titik Bojongsari.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah Bojongsari bakal menjadi “Margonda 2” di Kota Depok?
Istilah “Margonda 2” tentu bukan nama resmi. Sebutan tersebut lebih tepat menggambarkan kemungkinan munculnya pusat pertumbuhan baru yang memiliki aktivitas ekonomi, perdagangan, kuliner, pendidikan, jasa dan hunian dalam skala besar.
Bojongsari Mulai Dilirik Pengembang
Pertumbuhan sektor properti menunjukkan Bojongsari mulai menjadi kawasan yang menarik bagi pengembang.
Sejumlah proyek perumahan telah hadir dengan konsep dan target pasar yang berbeda.
Data platform Sikumbang milik BP Tapera mencatat adanya proyek perumahan di kawasan Bojongsari, termasuk Sawangan Residence Ideal di Bojongsari Baru yang menawarkan rumah komersial dengan sejumlah pilihan tipe.
Sementara itu, berbagai platform properti juga mencatat sejumlah kompleks perumahan di wilayah Bojongsari dan sekitarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar hunian di wilayah barat Kota Depok semakin berkembang.
Salah satu gambaran perubahan skala kawasan dapat dilihat dari kehadiran Shila at Sawangan, sebuah kawasan hunian terpadu yang menggabungkan area residensial dan komersial.
Kawasan tersebut juga memiliki danau yang menjadi salah satu elemen utama pengembangan.
Konsep seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan di Bojongsari dan kawasan sekitarnya mulai bergerak dari sekadar pembangunan rumah menjadi pengembangan kawasan.
Rumah Bertambah, Ekonomi Ikut Bergerak
Bertambahnya perumahan biasanya akan diikuti pertumbuhan aktivitas ekonomi.
Ketika penghuni baru datang, kebutuhan mereka juga meningkat. Mulai dari tempat makan, minimarket, laundry, bengkel, salon, sekolah, klinik, tempat olahraga, kedai kopi hingga berbagai jenis usaha jasa.
Di sinilah pembangunan perumahan memiliki efek berantai terhadap perekonomian lokal.
Sebuah kawasan yang awalnya hanya berupa kompleks hunian perlahan dapat berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Jika jumlah perumahan terus bertambah dan populasi meningkat, peluang munculnya pusat ekonomi baru di Bojongsari juga semakin besar.
Apalagi Bojongsari memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu wilayah di bagian barat Kota Depok yang berbatasan dan memiliki akses menuju sejumlah kawasan di sekitarnya.
Dalam dokumen perencanaan Kota Depok, Bojongsari juga telah diarahkan sebagai salah satu Pusat Pelayanan Kota atau PPK. Artinya, secara perencanaan, wilayah ini memang memiliki posisi penting dalam perkembangan Kota Depok.
Apakah Bisa Menjadi “Margonda 2”?
Lantas, apakah Bojongsari bisa menjadi “Margonda 2”?
Jawabannya bisa, tetapi kemungkinan besar dengan karakter yang berbeda.
Margonda memiliki sejarah dan karakter tersendiri sebagai koridor utama Kota Depok.
Di sepanjang jalan tersebut berkembang pusat perdagangan, kuliner, pendidikan, jasa, perkantoran dan berbagai aktivitas masyarakat.
Bojongsari tidak harus meniru pola tersebut.
Kawasan ini justru berpotensi berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru dengan karakter yang lebih berbasis kawasan hunian terpadu.
Perumahan menjadi fondasinya, kemudian perdagangan, jasa, kuliner, pendidikan, kesehatan dan rekreasi tumbuh mengikuti jumlah penduduk.
Jika proses tersebut berlangsung secara terencana, Bojongsari bukan sekadar kawasan tempat tinggal, tetapi dapat menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi baru di Depok.
Tantangan Besarnya Ada di Infrastruktur
Namun, pertumbuhan perumahan juga menyimpan tantangan.
Semakin banyak rumah berarti semakin banyak penghuni dan kendaraan. Jika pertumbuhan penduduk tidak diimbangi peningkatan kapasitas jalan, kemacetan menjadi persoalan yang sulit dihindari.
Persoalan drainase dan lingkungan juga harus menjadi perhatian.
Pembangunan kawasan baru idealnya tidak hanya menghitung jumlah unit rumah yang dapat dibangun, tetapi juga mempertimbangkan kapasitas jalan, saluran air, ruang terbuka hijau, fasilitas pendidikan, kesehatan dan transportasi publik.
Jangan sampai pembangunan perumahan berjalan cepat, tetapi infrastrukturnya tertinggal.
Karena itu, pemerintah dan pengembang harus memiliki perencanaan yang sejalan.
Setiap pembangunan kawasan baru perlu melihat dampaknya terhadap wilayah sekitar, termasuk masyarakat yang sudah lebih dahulu tinggal di Bojongsari.
Jangan Hanya Jadi Kawasan “Tidur”
Tantangan lain adalah bagaimana Bojongsari tidak hanya menjadi kawasan permukiman atau “kota tidur”.
Jika sebagian besar penghuni setiap hari harus keluar dari Bojongsari untuk bekerja di Jakarta, Tangerang Selatan, Bogor atau pusat Kota Depok, maka aktivitas ekonomi lokal tidak akan berkembang maksimal.
Sebaliknya, jika pusat perdagangan, kuliner, pendidikan, fasilitas kesehatan, ruang rekreasi dan lapangan pekerjaan ikut tumbuh, Bojongsari memiliki peluang menciptakan ekosistem ekonomi sendiri.
Inilah yang dapat membuat kawasan tersebut benar-benar menjadi pusat pertumbuhan baru.
Keberadaan berbagai kelas perumahan justru dapat menjadi modal awal.
Ada masyarakat yang tinggal di perumahan sederhana, kelas menengah hingga kawasan hunian premium. Semua segmen tersebut membutuhkan berbagai layanan dan produk.
Kondisi tersebut dapat menjadi pasar yang besar bagi pelaku usaha lokal.
Bojongsari Punya Peluang Besar
Melihat perkembangan pembangunan perumahan yang semakin beragam, Bojongsari memiliki peluang untuk menjadi salah satu kawasan penting dalam peta pertumbuhan Kota Depok.
Namun, pertumbuhan tersebut harus dikawal dengan baik.
Pemerintah perlu memastikan tata ruang berjalan konsisten, infrastruktur berkembang seiring pertumbuhan penduduk, serta fasilitas publik tersedia secara memadai.
Pengembang juga perlu memperhatikan lingkungan dan masyarakat sekitar, bukan hanya membangun kawasan hunian.
Sementara masyarakat memiliki peran untuk ikut mengawasi perkembangan wilayah agar Bojongsari tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, Bojongsari mungkin belum bisa disebut sebagai “Margonda 2”.
Tetapi tanda-tanda menuju pusat pertumbuhan baru sudah mulai terlihat.
Perumahan terus bermunculan. Penduduk bertambah. Aktivitas perdagangan dan jasa mengikuti. Kawasan komersial mulai berkembang.
Jika semua itu ditopang infrastruktur yang baik dan perencanaan kota yang matang, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan Bojongsari akan menjadi salah satu pusat ekonomi baru Kota Depok.
Jadi, pertanyaannya bukan sekadar “Apakah Bojongsari akan menjadi Margonda 2?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah Bojongsari akan mampu menjadi pusat pertumbuhan baru Depok tanpa kehilangan kenyamanan, lingkungan dan identitas kawasan?”
Jawabannya akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah, pengembang, pelaku usaha dan masyarakat bersama-sama mengelola pertumbuhan kawasan tersebut.
- Penulis: Aditya Rahman

Saat ini belum ada komentar