Sebelum Beli Mobil Listrik, Wajib Tahu 7 Kelebihan dan Kekurangannya di Indonesia
- account_circle Ari Arjuno
- calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
- print Cetak

Sebelum Beli Mobil Listrik, Wajib Tahu 7 Kelebihan dan Kekurangannya di Indonesia
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Inilahdepok.id – Mobil listrik semakin mudah ditemukan di jalanan Indonesia.
Perkembangan teknologi kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir membuat masyarakat memiliki pilihan baru selain mobil berbahan bakar bensin atau diesel.
Bagi sebagian orang, mobil listrik menawarkan biaya operasional yang lebih rendah, kabin yang senyap, serta teknologi yang semakin canggih.
Namun, di balik sejumlah keunggulan tersebut, masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan membeli mobil listrik.
Infrastruktur pengisian daya memang terus berkembang. Pada 2026, PLN bersama mitra telah menyediakan 4.769 unit SPKLU di 3.097 titik di seluruh Indonesia, dengan rata-rata jarak antar-SPKLU sekitar 22 kilometer.
Lantas, apa saja kelebihan dan kekurangan mobil listrik di Indonesia?
Kelebihan Mobil Listrik di Indonesia
1. Biaya Operasional Lebih Hemat
Salah satu alasan utama masyarakat mulai melirik mobil listrik adalah biaya operasionalnya.
Mobil listrik tidak membutuhkan bensin atau solar. Energi yang digunakan berasal dari listrik yang disimpan dalam baterai.
Selain biaya energi yang berpotensi lebih rendah, mobil listrik juga memiliki lebih sedikit komponen bergerak dibandingkan mobil bermesin pembakaran.
Artinya, beberapa komponen perawatan rutin seperti penggantian oli mesin dan sejumlah komponen mesin konvensional tidak diperlukan.
PLN juga mencatat pengguna kendaraan listrik merasakan keuntungan dari sisi efisiensi dan biaya operasional.
2. Tidak Menghasilkan Emisi Gas Buang dari Kendaraan
Mobil listrik tidak menghasilkan asap dari knalpot karena tidak menggunakan mesin pembakaran internal.
Hal ini menjadi salah satu keunggulan mobil listrik untuk penggunaan di kawasan perkotaan yang memiliki tingkat kepadatan kendaraan tinggi.
Namun, dampak lingkungan mobil listrik tetap perlu dilihat secara menyeluruh karena listrik yang digunakan untuk mengisi baterai berasal dari sistem pembangkitan listrik dengan sumber energi yang beragam.
Dengan kata lain, mobil listrik dapat mengurangi emisi langsung di jalan, tetapi manfaat lingkungan secara keseluruhan juga bergantung pada sumber energi listrik yang digunakan.
3. Berkendara Lebih Senyap
Tidak adanya mesin pembakaran membuat mobil listrik memiliki karakter berkendara yang lebih senyap.
Suara mesin dan getaran yang biasanya terasa pada mobil bensin atau diesel jauh lebih minim.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu daya tarik mobil listrik, khususnya ketika digunakan di dalam kota.
Sejumlah pengguna EV juga merasakan pengalaman berkendara yang lebih halus dibandingkan kendaraan konvensional.
4. Akselerasi Cepat
Motor listrik mampu menghasilkan torsi secara cepat sejak kendaraan mulai bergerak.
Karakter tersebut membuat sejumlah mobil listrik terasa responsif ketika pedal akselerator diinjak.
Karena itu, jangan heran jika mobil listrik dengan tenaga besar mampu memberikan akselerasi yang sangat cepat meskipun ukurannya tidak selalu terlihat seperti mobil sport.
5. Bisa Mengisi Daya di Rumah
Salah satu kenyamanan mobil listrik adalah pemilik dapat melakukan pengisian daya di rumah dengan fasilitas yang sesuai.
Dengan sistem home charging, mobil dapat diisi ketika kendaraan sedang tidak digunakan, misalnya pada malam hari.
Konsep ini berbeda dengan mobil bensin yang mengharuskan pemilik datang ke SPBU untuk mengisi bahan bakar.
Bagi pengguna yang sebagian besar aktivitasnya dilakukan di dalam kota, kebiasaan mengisi daya di rumah dapat menjadi salah satu kelebihan terbesar mobil listrik.
6. Infrastruktur SPKLU Semakin Bertambah
Kekhawatiran mengenai sulitnya menemukan tempat pengisian daya perlahan mulai berkurang.
Sepanjang 2025, PLN bersama mitra mengoperasikan 4.655 unit SPKLU di 3.007 lokasi. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 4.769 unit di 3.097 titik untuk mendukung mobilitas kendaraan listrik pada periode mudik 2026.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem kendaraan listrik di Indonesia terus berkembang.
Bahkan, pada periode mudik Lebaran 2026, transaksi pengisian di SPKLU PLN mencapai lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kekurangan Mobil Listrik di Indonesia
1. Harga Pembelian Masih Menjadi Pertimbangan
Meskipun semakin banyak model mobil listrik dengan harga yang lebih terjangkau, harga pembelian tetap menjadi pertimbangan bagi sebagian konsumen.
Masyarakat tidak hanya menghitung harga mobil, tetapi juga perlu mempertimbangkan biaya pemasangan home charging, akses listrik di rumah, asuransi, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Karena itu, mobil listrik belum tentu menjadi pilihan paling murah bagi setiap orang jika hanya dilihat dari harga pembelian awal.
2. Waktu Pengisian Lebih Lama Dibandingkan Isi BBM
Mengisi bensin biasanya hanya membutuhkan waktu beberapa menit.
Sementara itu, pengisian mobil listrik membutuhkan waktu yang bergantung pada kapasitas baterai, jenis charger, kondisi baterai, serta kemampuan mobil menerima daya.
Fast charging dan ultra fast charging memang dapat mempercepat proses tersebut. Namun, pengisian tetap membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan mengisi bahan bakar di SPBU.
PLN sendiri terus meningkatkan penggunaan teknologi fast charging hingga ultra fast charging pada sejumlah SPKLU dengan tingkat pemakaian tinggi.
3. Perjalanan Jarak Jauh Membutuhkan Perencanaan
Bagi pemilik mobil bensin, perjalanan jauh relatif sederhana. Ketika bahan bakar berkurang, pengemudi tinggal mencari SPBU.
Pada mobil listrik, perjalanan jarak jauh membutuhkan perencanaan lebih matang.
Pengemudi perlu mengetahui:
- Kapasitas baterai
- Jarak tempuh kendaraan
- Lokasi SPKLU
- Waktu pengisian
- Kondisi lalu lintas
- Kondisi baterai
- Kemungkinan antrean di SPKLU
PLN bahkan menyediakan fitur Trip Planner melalui PLN Mobile agar pengguna dapat merencanakan perjalanan dengan mempertimbangkan lokasi SPKLU di sepanjang rute.
4. Antrean SPKLU Bisa Terjadi
Jumlah SPKLU memang terus bertambah, tetapi pertumbuhan pengguna kendaraan listrik juga meningkat.
Pada momen tertentu seperti mudik Lebaran, lokasi pengisian yang berada di jalur ramai dapat mengalami peningkatan penggunaan.
Karena itu, pemilik mobil listrik tetap perlu mempertimbangkan kemungkinan antrean, terutama ketika melakukan perjalanan pada periode liburan panjang.
PLN telah menyediakan fitur AntreEV untuk membantu pengguna memantau antrean pengisian secara real time di sejumlah layanan SPKLU.
5. Baterai Menjadi Komponen yang Sangat Penting
Baterai merupakan salah satu komponen paling penting sekaligus mahal dalam kendaraan listrik.
Seiring penggunaan dan usia kendaraan, kapasitas baterai dapat mengalami penurunan.
Karena itu, calon pembeli mobil listrik perlu memperhatikan garansi baterai, masa perlindungan, kapasitas baterai, jaringan layanan purnajual, serta biaya penggantian apabila suatu saat diperlukan.
Hal ini penting karena kondisi baterai sangat berpengaruh terhadap jarak tempuh kendaraan.
6. Belum Semua Daerah Memiliki Infrastruktur yang Sama
Perkembangan SPKLU di Indonesia cukup pesat, tetapi persebarannya belum tentu sama di setiap daerah.
Kawasan perkotaan dan jalur utama biasanya memiliki infrastruktur yang lebih siap dibandingkan wilayah yang jauh dari pusat kota atau jalur transportasi utama.
Karena itu, kebutuhan pengguna di Jakarta, Bandung, Surabaya atau kota besar lainnya bisa berbeda dengan pengguna yang tinggal di daerah yang jaringan SPKLU-nya masih terbatas.
Jadi, Apakah Mobil Listrik Cocok untuk Orang Indonesia?
Jawabannya sangat bergantung pada kebutuhan.
Mobil listrik sangat menarik bagi masyarakat yang:
✔ Lebih banyak menggunakan mobil untuk aktivitas perkotaan
✔ Memiliki tempat parkir dan bisa memasang home charging
✔ Menginginkan biaya operasional yang lebih efisien
✔ Tidak ingin terlalu sering melakukan perawatan mesin konvensional
✔ Terbiasa menggunakan teknologi digital
Sebaliknya, mobil listrik mungkin membutuhkan pertimbangan lebih matang bagi mereka yang:
✘ Sering melakukan perjalanan antarkota melalui wilayah dengan SPKLU terbatas
✘ Tidak memiliki akses pengisian daya di rumah
✘ Membutuhkan pengisian kendaraan dalam waktu sangat cepat
✘ Tinggal di wilayah yang infrastruktur kendaraan listriknya belum berkembang
Mobil Listrik Bukan Sekadar Tren
Perkembangan mobil listrik di Indonesia menunjukkan bahwa kendaraan berbasis baterai mulai menjadi bagian dari perubahan industri otomotif.
Buktinya, infrastruktur pengisian terus bertambah dan penggunaan SPKLU juga meningkat. Pada periode Ramadan dan Idulfitri 2026, PLN mencatat 303.234 transaksi pengisian selama 12–31 Maret, naik lebih dari empat kali lipat dibanding periode yang sama pada 2025.
Namun, masyarakat tetap perlu melihat mobil listrik secara realistis.
Mobil listrik memang menawarkan efisiensi, kenyamanan dan teknologi yang menarik. Tetapi kendaraan ini juga membutuhkan kebiasaan baru, terutama dalam mengatur pengisian baterai dan merencanakan perjalanan.
Pada akhirnya, mobil listrik bukan berarti selalu lebih baik daripada mobil bensin dalam semua kondisi.
Pilihan terbaik adalah kendaraan yang paling sesuai dengan kebutuhan, kemampuan finansial, pola perjalanan, serta infrastruktur yang tersedia di sekitar tempat tinggal.
Indonesia sendiri tampaknya sedang bergerak menuju era kendaraan listrik. Tinggal satu pertanyaan penting: seberapa cepat masyarakat siap beradaptasi dengan cara baru dalam menggunakan kendaraan?
- Penulis: Ari Arjuno

Saat ini belum ada komentar