DLHK Depok Dampingi Delegasi ASEAN Susuri Ciliwung, Ini Dampaknya buat Warga Bantaran Sungai
- account_circle towelspro
- calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
- print Cetak

DLHK Depok Dampingi Delegasi ASEAN Susuri Ciliwung, Ini Dampaknya buat Warga Bantaran Sungai
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
inilahdepok.id — Suasana Dermaga Sahabat Ciliwung di kawasan Grand Depok City berubah lebih ramai dari biasanya, Rabu (12/8/2026).
Bukan warga sekitar yang biasa memancing atau bersantai di tepian, melainkan rombongan delegasi dari negara-negara ASEAN yang datang untuk menyusuri langsung kondisi Sungai Ciliwung.
Bagi warga di 22 kelurahan yang wilayahnya berbatasan langsung dengan sungai ini.
Kunjungan tersebut bukan sekadar seremoni internasional, ini menyangkut kualitas air yang mereka pakai sehari-hari dan nasib program pembenahan sungai yang selama ini dijanjikan pemerintah kota.
Ciliwung Depok Jadi Sorotan Regional
Kunjungan ini merupakan bagian dari program kerja sama regional GEF/UNDP/ASEAN IRBM yang dikelola PEMSEA Resource Facility bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Delegasi yang hadir terdiri dari para ahli, pembuat kebijakan, dan praktisi lingkungan dari beberapa negara ASEAN, yang selama beberapa hari membahas kerangka pemantauan lingkungan serta sistem pelaporan kondisi daerah aliran sungai (DAS) yang lebih terstandar di tingkat regional.
Kepala DLHK Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, menyambut kunjungan ini sebagai momentum untuk memperkuat pendekatan Integrated River Basin Management (IRBM) atau pengelolaan DAS terpadu yang sedang dijalankan di Depok.
Ia menyebut kehadiran delegasi sebagai dorongan tambahan bagi upaya bersama mengelola sungai secara berkelanjutan.
Fakta yang Bikin Warga Bantaran Harus Waspada
Di balik kunjungan yang terkesan seremonial ini, ada data yang layak jadi perhatian warga. Berdasarkan hasil pemantauan tahun 2025, status mutu air Ciliwung di wilayah Depok masih berada pada kategori cemar ringan hingga sedang.
Parameter yang paling sering melebihi ambang batas adalah kandungan mikrobiologi — Fecal Coliform dan Total Coliform — yang bersumber dari limbah rumah tangga serta limpasan sektor komersial seperti hotel dan restoran yang belum memiliki instalasi pengolahan air limbah memadai.
Artinya, bagi warga yang tinggal di bantaran atau masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan non-konsumsi, risiko pencemaran mikrobiologi ini nyata dan berkelanjutan selama sumber pencemarannya belum tertangani.
Apa yang Sedang Dikerjakan DLHK di Lapangan
Untuk merespons kondisi tersebut, DLHK Depok menyebut sejumlah langkah yang tengah digenjot, di antaranya percepatan pembangunan IPAL komunal di zona padat penduduk, pemantauan kualitas air berkala di titik hulu-tengah-hilir, serta optimalisasi program TPS 3R dan Bank Sampah di 22 kelurahan dari 6 kecamatan yang berbatasan langsung dengan Ciliwung.
Menariknya, upaya ini tidak berjalan sendirian. Komunitas Peduli Ciliwung dan Kelompok ProKlim disebut terus aktif melakukan aksi bersih sungai dan penghijauan mandiri, sementara sebagian warga bantaran kini beralih ke air PDAM atau sumur bor untuk kebutuhan konsumsi harian.
Rangkaian kunjungan delegasi ASEAN ini ditutup dengan aksi simbolis penanaman pohon di bantaran sungai bersama DLHK Depok. Reni berharap kolaborasi ini bisa memperkuat ketahanan lingkungan Kota Depok sekaligus menjadi contoh pengelolaan sungai di tingkat regional.
Bagi warga Depok, terutama yang tinggal di 22 kelurahan bantaran Ciliwung, sorotan internasional ini bisa jadi momentum penting — asal janji percepatan IPAL komunal dan pengawasan ketat benar-benar berlanjut setelah delegasi pulang, bukan berhenti di seremoni penanaman pohon.****
- Penulis: towelspro

Saat ini belum ada komentar