- F054952CEF20F0CD41E9111C0F7F3DC2

Darurat, Pemrov Jabar Terapkan Pola Hulu dan Hilir Penggunaan BOR

  • Bagikan
Ridwan Kamil: PKB Akan Gelar Deklarasi Dukungan di Pantura

Inilahdepok.id – Penggunaan tempat tidur atau Bed Occupancy Ratio/BOR  di rumah sakit untuk pasien Covid-19 terisi penuh di berbagai kota dan kabupaten se-Jawa Barat. Tentu ini menjadi  persoalan.

Untuk mengatasi itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan,  akan menerapkan pola hulu dan hilir penggunaan tempat tidur  di rumah sakit untuk pasien Covid-19 dengan harapan penggunaan tempat tidur di rumah sakit bisa kembali turun.

“Situasi darurat, Jawa Barat melakukan pola hulu dan pola hilir untuk mengurangi BOR rumah sakit,”kata Ridwan Kamil dilansir dari situs resmi Pemrov Jabar.

Baca juga:https://inilahdepok.id/2021/06/15/tempat-tidur-isolasi-dan-icu-rumah-sakit-rujukan-covid-19-di-depok-sudah-diatas-70-persen/

Pola Hulu

Ridwan Kamil menjelaskan, pola hulu adalah dengan menyiapkan tempat isolasi di desa-desa. Sehingga masyarakat sekitar yang terpapar covid-19 namun memiliki gejalan ringan tidak perlu dilarikan ke rumah sakit.

“Apa itu pola hulu? Pola hulu itu seperti ini jadi sebelum ke rumah sakit yang ringan sedang enggak usah ke rumah sakit cukup dirawat di sini. Karena waktu di Bandung Raya sepertiganya itu ternyata tidak perlu di Rumah Sakit. Tapi karena kurang edukasi sehingga membebani kasur-kasur tempat tidur di rumah sakit,”  kata dia.

Pola Hilir

Sedangkan untuk pola hilir adalah dengan memindahkan atau transisi pasien covid-19 yang akan sembuh ke beberapa tempat dari mulai hotel, apartemen, rusun hingga tempat isolasi di desa-desa. Sehingga pasien covid-19 yang benar-benar membutuhkan penanganan medis bisa diakamodasi di rumah sakit.

“Sehingga tempat tidur di rumah sakit yang terbatas itu betul-betul hanya mereka yang butuh penanganan emergency dan kondisi lagi berat,” jelasnya.

Baca juga: https://inilahdepok.id/2021/06/28/pemkot-depok-berencana-bangun-rumah-sakit-darurat/

Pola hulu ke hilir ini sudah dilaksanakan di beberapa daerah. Hanya saja, pria yang akarab disapa Kang Emil berpesan agar pola hulu ke hilir ini bisa lebih dimaksimalkan.

“Pola hulu dan hilir ini lah yang di Garut sudah dilaksanakan tinggal dimaksimalkan, sehingga ini contoh ada yang kena (COVID-19) lima warga tinggal di sini dan sembuh. Bayangkan kalau tidak ada ini dan tanpa pengetahuan berarti si lima ini lari semua ke RSUD, nah itu yang akan bikin kolaps. Kurangnya pengetahuan,” pungkas  Kang Emil.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *