Munculnya Poros Alternatif untuk mengantisipasi tingginya angka golput pada Pilakda Kota Depok 2020

Munculnya Poros Alternatif untuk mengantisipasi tingginya angka golput pada Pilakda Kota Depok 2020

Fenomena “hantu” Golput yang angka nya cukup signifikan di berbagai Pilkada yang telah diselenggarakan di berbagai daerah memang merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Sikap apatis rakyat dalam mengikuti “pesta demokrasi” ini bisa kita artikan sebagai hilangnya harapan masyarakat akan adanya perubahan kea rah yang lebih baik bagi daerah nya.

Untuk kota depok sendiri angka Golput pada Pilkada 2015 yang lalu mencapai angka sekitar 44%, sebuah angka yang tidak bisa dibilang rencah, dan angka ini dikhawatirkan akan naik secara signifikan mengingat pada Pilkada 2020 yang akan datang, partai-partai penguasa DPRD Kota Depok justru mengusung calon 4L alias “Lu Lagi-Lu Lagi”. PKS mengusung M.Idris dan Iman Budi Hartono yang merupakan Walikota petahana dan kader internal PKS, sementara Gerindra dan PDIP mengusung Pradi Supriatna dan Afifah yang merupakan Wakil Walikota petahana serta kader internal PDIP.

Dari komposisi ini kita bisa melihat bahwa sebenarnya warga kota Depok sudah tidak bisa berharap banyak akan adanya perubahan yang signifikan terhadap Kota Depok yang mereka cintai. Warga  Depok hanya akan melihat pembangunan yang sama dengan 5 atau 10 tahun sebelumnya tanpa harapan Kearah yang lebih baik, karena yang bersaing adalah Walikota dan Wakil Walikota petahan yang “sudah bisa dinilai” kinerja nya selama memimpin Kota Depok.

Bacaan Lainnya

Terobosan yang bisa diharapkan untuk mengurangi tinggi nya angka Golput ini adalah dengan memunculkan tokoh-tokoh muda yang benar-benar “fresh” dan diharapkan mempunyai program-program yang “out of the box” untuk kemajuan Kota Depok. Masyarakat sudah sangat jenuh dengan kepemimpinan yang sekarang dan berharap adanya sebuah terobosan untuk kemajuan Kota Depok tercinta.

Herryansyah S.Sos, MBA (Dosen/Peneliti Univeristas Indonesia

Terobosan ini sebenarnya masih dimungkinkan karena masih ada beberapa Partai Politik yang sampai hari ini belum menentukan sikap nya dalam Pilkada Kota Depok 2020, diantaranya adalah Golkar, PKB, dan PSI yang apabila memiliki keinginan yang kuat dalam rangka kemajuan kota Depok dapat mengusung pasangan calon mereka sendiri, tanpa harus mengikuti arus besar PKS, Gerindra dan PDIP.

Partai-partai ini dapat mengusung kader mereka sendiri seperti A. Farabi yang merupakan Ketua DPC Golkar Kota Depok, dengan menggandeng tokoh muda Nahdiyin seperti Ahmad Riza Al Habsy, Tokoh Muda Kota Depok yang memiliki kaliber Nasional seperti Rama Pratama (mantan anggota DPR-RI), ataupun Tokoh Pemuda seperti Rudi Samin yang cukup mengakar di Kota Depok.

Pasangan muda ini dapat menjadi alternative (kuda hitam) di tengah kejenuhan warga Kota Depok yang sepertinya sedang “dipaksa” untuk memilih oleh Partai Penguasa DPRD Depok, antara Walikota petahana dan Wakil Walikota petahana dalam Pilkada Kota Depok nanti.

Komposisi pemimpin muda ini akan lebih menarik untuk dimunculkan ketengah masyarakat Kota Depok yang sudah jenuh dengan pola kepemimpinan yang sama selama 15 tahun belakangan ini (dibuktikan dengan rendahnya pastisipasi politik dan tingginya angka golput).

Secara politis sebenarnya rendahnya angka partisipasi politik masyarakat kota depok dapat juga diartikan sebagai “rendahnya legitimasi” siapapun yang akan terpilih nanti memimpin Kota Depok 2020-2025. Pilkada yang hanya akan memunculkan pemimpin yang tidak mengakar dan tidak dicintai oleh rakyatnya sendiri, serta pemimpin yang miskin inovasi dan terobosan yang dapat memajukan Kota Depok, pemimpin yang hanya “menjalankan business as usual” menghabiskan APBD tanpa menghasilkan benefit apapun bagi warga Kota nya.(t/id)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *