- F054952CEF20F0CD41E9111C0F7F3DC2

Dinkes Depok Sebar Surat Edaran Terkait Produk Ikan Kaleng

  • Bagikan

Inilahdepok.id- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok menyebarkan surat edaran kepada toko, supermarket, dan pasar terkait tindak lanjut penjelasan Badan POM RI pada tanggal 22 Maret 2018 tentang temuan cacing pada produk ikan kaleng.

“Kita sebar surat edaran ke pasar tradisional, supermarket, dan minimarket di Kota Depok,” kata Sekretaris Dinkes Depok, Ernawati, Jumat (30/3).

Ernawati mengatakan, di dalam surat tersebut ada tiga produk ikan kaleng ikan makarel dalam saus tomat kemasan kaleng ukuran 425 gram. Antara lain sebut dia, merek Farmerjack, nomor izin edar (NIE) BPOM RI ML 543929007175, nomor bets 3502/01106 35 1 356, merek IO, NIE BPOM RI ML 543929070004, nomor bets 370/12 Oktober 2020, dan merek HOKI, NIE BPOM RI ML 543909501660, nomor Bets 3502/01103/-.

“Surat edaran ini sudah disebar,” ucap Ernawati.

Ia menambahkan, Badan POM RI juga telah melakukan sampling dan pengujian terhadap produk ikan dalam kaleng lainnya yang beredar di seluruh Indonesia guna memastikan adanya dugaan cacing dalam ikan kemasan kaleng. Kata dia, sampai dengan 28 Maret 2018, BPOM RI telah melakukan sampling dan pengujian terhadap 541 sampel ikan dalam kemasan kaleng yang terdiri dari 66 merek.

Hasil pengujian sebut dia, berdasarkan B POM RI menunjukkan ada 27 merek atau 138 bets positif mengandung parasit cacing. Terdiri dari 16 (enam belas) merek produk impor dan 11 merek produk dalam negeri. “Dominasi produk yang mengandung parasit cacing adalah produk impor,” kata dia berdasarkan infromasi dari Badan POM RI.

Diketahui bahwa produk dalam negeri bahan bakunya juga berasal dari impor. Merek produk yang mengandung parasit cacing sebagaimana terlampir. Berdasarkan temuan tersebut BPOM RI telah memerintahkan kepada importir dan produsen untuk menarik produk dengan bets terdampak dari peredaran dan melakukan pemusnahan.

Selain itu, sambung Ernawati, untuk sementara waktu 16 merek produk impor tersebut dilarang untuk dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia dan 11 merek produk dalam negeri proses produksinya dihentikan sampai audit komprehensif selesai dilakukan. BPOM RI kata dia, terus memantau pelaksanaan penarikan dan pemusnahan serta meningkatkan sampling dan pengujian terhadap bets lainnya dan semua produk ikan dalam kaleng, baik produk dalam maupun luar negeri.

“Masyarakat diimbau untuk lebih cermat dan hati-hati dalam membeli produk pangan. Selalu ingan Cek “KLIK” (Kemasan, Label, izin Edar dan Kedaluwarsa) sebelum membeli atau mengonsumsi produk pangan. Pastikan kemasannya dalam kondisi utuh, baca informasi pada label, pastikan memiliki izin edar dari BPOM RI, dan tidak melewati masa kedaluwarsa,” bebernya.

Lebih lanjut Ernawati mengatakan, berdasarkan stetmen Mentri Kesehatan Nila F Moeloek produk ikan kalengan itu tidak dimakan mentah, tapi harus dimasak lagi otomatis cacingnya mati. “Cacing itu sebenarnya isinya protein, ada berbagai contoh aja tapi saya kira kalau udah dimasak kan saya kira juga steril, gak jadi ini (penyakit),” tutur Ernawati mengutip komentar Menteri Kesehatan Nila F Moeloek.

Terpisah Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Depok, Rienova Serry Donie mengapresiasi langkah Dinkes Depok tanggap akan informasi terkait kesehatan pada masyarakat Depok, terutama makanan yang sering dikonsumsi masyarakat banyak, seperti produk ikan kaleng ini yang viral diberitakan di media.

“Perlu banget harus di sidak dan cek sampai ke warung-warung kecil. Sebab, dari produk itu yang disampaikan di media tidak semua masyarakat baik pembeli dan penjual tahu terhadap produk tersebut,” kata Politikus Partai Gerindra ini.

Terlebih kata dia, Dinkes Depok harus masif menyosalisasikan surat edaran terkait produk tersebut. Bisa melalui media cetak, online, radio, famplet atau spanduk secara masif atas bahaya cacing pita dan harus ditindaklanjuti hingga ke pemerintah pusat dan BPOM dan perusahaan yang mengeluarkan produk ini tentu harus mendapatkan sangsi,” tutup Rienova.(ctr/id)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *