- F054952CEF20F0CD41E9111C0F7F3DC2

Kalau Bung Karno Masih Ada, Trump Bisa Kena Murka

  • Bagikan
Wakil Presiden Mike Pence berdiri di belakang Presiden Donald Trump yang memegang proklamasi yang ia tanda tangani bahwa Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan akan memindahkan kedutaanya kesana, saat berpidato dari Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/12). ANTARA FOTO/REUTERS/Kevin Lamarque

Inilahdepok.id –  Indonesia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Palestina. Bahkan sejak zaman pra kemerdekaan. Bersama Mesir, Palestina menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Wajar saja, ketika Palestina kemudian dijajah Zionis Israel, Presiden Soekarno ketika itu menjadi orang yang paling menentang.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Dewan Pembina Gerakan Marhaen Pecinta dan Pembela Tanah Air (Gempita),  Totok Sardjono menanggapi kebijakan Presiden Amerika Donald Trump yang memindahkan Ibu Kota Israel ke Yerusalem.

Totok Towels, Ketua Dewan Pembina Gempita, saat menyampaikan orasi (foto instagram #marhaenkeren)

Towels- biasa disapa- menyatakan, reaksi keras umat Islam di Indonesia merupakan hal yang lumrah. Sebab, sejak zaman Bung Karno dulu, Indonesia sangat menentang penjajahan Israel.

“Kita masih ingat bagaimana Bung Karno menyatakan, ‘Selama kemerdekaan Palestina dijajah belum diserahkan kepada rakyat Palestina, selama itu pula rakyat Indonesia menentang penjajahan Israel, ” ujar Towels seperti dilansir jawapos.com, Senin (11/12).

Towels menegaskan, pernyataan Bung Karno tersebut merupakan komitmen yang sampai sekarang masih dipegang bangsa.

Bagi dia, lanjut Towels, Palestina lebih dari sekadar negara sahabat, melainkan sudah seperti saudara kandung.

“Seandainya Bung Karno masih hidup, Trump bisa-bisa kena murka sang putra fajar. Trump harusnya belajar sejarah, tidak melakukan kebijakan yang brutal dan radikal seperti sekarang, ” beber pria yang juga Sekretaris DPC PDI Perjuangan itu.

Towels berharap Presiden Joko Widodo terus melakukan konsolidasi maupun diplomasi dengan negara-negara lain. Sebab, eskalasi di Timur Tengah, khususnya Palestina,  semakin meruncing.

“Indonesia harus merangkul negara-negara Islam lainnya. Bahkan kalau perlu menjadi inisiator. Bangsa kita punya peranan strategis dalam hal ini, ” tutup dia.(vip/id/mam/jpg)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *