- F054952CEF20F0CD41E9111C0F7F3DC2

Emil Dardak yang ‘Mendardak Luntur dan Usang’

  • Bagikan
KTA Emil Dardak tak lagi merah

Bagaikan petir, gelegar pilkada serentak 2018 mulai menyambar khusunya di kawasan daerah yang dijadwalkan ikut serta dalam ajang pesta demokrasi 5 tahunan untuk memilih kepala daerah secara langsung.

Dinamika politik yang terjadi, mulai dari yang lucu, aneh bahkan ngawurpun nampak jelas terilhat diberbagai wilayah, mulai tarik ulur rekomendasi partai politik sampai politik transaksional hingga ambisi kepala manusia yang menghalalkan semua cara yang mengesampingkan norma etika.

Satu contoh Emil dardak, bupati trenggalek hasil pilkada serentak tahun 2015 yang diusung PDI Perjuangan dan didukung beberapa partai politik, entah kena angin apa tiba tiba ingin meninggalkan kursi bupatinya dan maju menjadi calon wakil gubernur jawa timur yang diusung partai lain.

Ada apakah gerangan ? kurang enak kah menjadi seorang bupati ?, kurang besar kah kekuasaan yang dimiliki bupati atau sekedar ambisi dasyat seseorang yang katanya intelektual dengan berjuta pemikiran brilianya…..

Sudahkan dia implementasikan sejuta inovasinya bagi trenggalek, memang,…..ada hak bagi setiap manusia indonesia untuk mencalonkan dirinya menjadi apapun, dan tak ada satupun yang berhak menghalang halangi.

Yaahh mungkin dardak menggunakan prinsip tersebut, namun dia lupa ketika tanganya “ngapurancang” ( istilah jawa, menyatukan kedua tanganya dengan sedikit menundukan kepala) Dihadapan para pemimpin PDI Perjuangan, dengan senyum manisnya mengatakan siap menjadi kader PDI Perjuangan, tidak sekedar jas merah layaknya seorang fungsionaris Partai, Kartu Tanda Keanggotaanpun (KTA) ia kantongi.

Tidak itu saja, sebagai kader PDI Perjuangan yang telah mendapatkan restu atau rekomendai Ketua Umum PDI Perjuangan Ibu Megawati Soekarnoputri, wajib mengikuti pendidikan kader calon kepala daerah yang digelar DPP Partai, yang tidak saja memberikan bekal dari para expart namun mulai dari situlah PDI Perjuangan mengerahkan seluruh kekuatan penuh partai untuk memenangkan para calon kepala daerah yang diusungnya, dengan harapan kelak nanti, mampu mengejawantahkan prinsip PDI Perjuangan merebut kekuasaan yaitu untuk “mensejahterakan seluruh rakyat indonesia”.

Sang Dardak rupanya lupa ketika pertama ia mengendap gerbang pintu PDI Perjuangan,
hanya dengan ucapan “ Maafkan saya “ That is all.
Apakah cukup begitu saja…..hmmmmm (geram)

Bagi DPP PDI Perjuangan dengan jiwa Negarawan mungkin masih bisa menarik nafas panjang hanya dengan bergumam “ emil tak etis “ pertanyaanya bisakah sifat itu dimiliki oleh seluruh kader PDI Perjuangan Trenggalek bahkan seluruh kader seantero Negeri.

Kini sang Emil Dardakpun telah luntur dan usang tak lagi merah, meninggalkan cerita getir bagi seluruh kader-kader PDI Perjuangan yang selama ini setia dengan loyalitas tanpa batas.

Sebagai penulis yang berdarah merah, yang yang di aliri jiwa MARHAENISME penting menyampaikan otokritik bagi DPP PDI Perjuangan.

Tidaklah mudah membuat moncong manusia menjadi putih, tidaklah mudah hati manusia sekejap menyimpan jiwa maruah ajaran PDI Perjuangan, tidaklah mudah memasangkan tanduk dikepala manusia, karena, tidak semua yang bertanduk adalah banteng…….

Walau kata IBU Mega “ sesungguhnya kita anak anak negeri yang berkepribadian banteng” tapi tidaklah semua mampu menjadi “ BANTENG SEJATI “

Seperti Emil Dardak, walau Moncong diputihkan, badan diBantengkan , walau kanan kiri kepala dipasang tanduk, tetaplah keluar kandang karna dia bukanlah Banteng Sejati. Dia hanyalah Emil Dardak yang mendardak luntur dan usang.

  • Oleh: Totok Towels
    Penulis adalah Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Depok
    Ketua Dewan Pembina Gempita ( Gerakan Marhaen Pembela dan Cinta Tanah Air)
    Ketua Marhaen Keren Community
    Pengasuh sanggar pengkicau
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *