- F054952CEF20F0CD41E9111C0F7F3DC2

BNPT Gelar Diskusi Bahas Terorisme

  • Bagikan
BNPT Gelar Diskusi Bahas Terorisme
Depok Sepakat Cegah Radikalisme
Inilahdepok.id-  Badan Nasional Penangulangan Teroris(BNPT) mengelar rapat koordinasi rencana aksi pecengahan terorisme di Kota Depok, yang digelar di Hotel Bumiwiyata, Kelurahan Kemirimuka, Beji.

Pelaksanaan ini, kata Direktur Pencegahan BNPT Brigadir Jendaral Polisi Ir, Hamli, kegaitan rapat ini dalam rangka pelaksanaan program kerja Deputi Bidang Pencegahan, perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT tahun 2017.

“Kita melibatkan semua unsur pemuka agama, pakar, ketua ormas-ormas agama, dan Kebangpol Depok. Termasuk dari Setara Insitute yang memaparkan risetnya tentang radikalisme di Depok,” kata Hamli.

Kegiatan ini sambung dia, agendanya diskusi terkait terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT). “Kami diskusi agar terorisme di kota ini tidak ada, bersama-sama mencegah aksi teror di Depok,” kata dia.

Kepala Kesbangpol Depok, Dadang Wihana menyambut baik agenda BNPT mengadakan kegiatan di Depok. Adanya BNPT ini mengelar kegiatan, kata dia, menjadi media klarifikasi stakeholder atas hasil penelitian Setara Insitute bahwa Depok sarang radikalisme .

“Diacara itu mayoritas peserta tidak sepakat atas penelitian Setara ini. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dirasakan para pimpinan organisasi tidak sesuai dengan hasil penelitian itu,” kata Dadang, kepada Inilahdepok.id.
Dalam hal ini Pemkot Depok maupun organisasi yang hadir, tidak alergiterhadap survei tersebut. Namun, pihaknya berharap bahwa setiap
penelitian harus didasarkan pada metodologi penelitian ilmiah.
Sehingga hasilnya lebih bisa dipertanggungjawankan.” Janagan sampai
hasil penelitian yang kurang obyektif menimbulkan potensi konflik
baru,” ungkap mantan Camat Sukamajaya ini.

Menurut Dadang, warga Depok tetap rukun ditengah keberagaman dan
sepakat bersama-sama mencegah radikalisme.

Lalu dalam hal ini, kata dia, tidak boleh lengah. Jika ditemukan
indikasi potensi intoleranisme dan radikalisme maka segera lakukan
pendekatan persuasif dan rehabilitatif.

“Agar potensi yang tidak diinginkan dan tidak meluas. Tentunya, tidak
hanya di Depok tapi seluruh Indonesia,” kata dia.

Dilokasi yang sama, Ketua Indonesian Institute for Society Empowerment
(INSEP), Prof.  Ahmad Syafi’i Mufid mengatakan, adanya hasil riset
tentang radikalisme di Depok ini,tentu ada  tiga catatan. Terutama
kerja ilmiah itu harus jujur.

Maksudnya, jujur dalam penggunaan konsep dan teori, metode, dan trianggulasi informasi. “Penelitian itu boleh salah, tetapi peneliti harus jujur terkait tiga catatan itu,” tuturnya.

Ketua PNCU Kota Depok, Kiyai Raden Salamun Adiningrat menilai diskusi ini sebagai bentuk menangkis adanya radikalisme lainya.

Terutama Kota Depok mendapatkan sorotan sebagai kota yang masuk lima besar kota yang intoleran dari hasil survei Setara Institute.
“Kami (NU) anggap itu sebagai sebuah info yang tidak harus dianggap kebenaranya. Tapi juga tidak menganggap itu kebohongan,” tutur Salamun.
Meski begitu, Salamun memberikan empat saran, pertama dialog lintas agama harus digelar dengan jujur dan terbuka. Ini kata dia, harus
dibiasakan dan Pemkot Depok harus memfasilitasi semaksimal mungkin.

“Ya dari pada dongkol dengan hasil survei itu, perbanyaklah dialog.Ajak pemuka agama yangg real, bukan sekedar yang disukai Pemkot
Depok,” kata Salamun.

Lalu kedua jangan ada debat antar agama. Sebab, dalam debat ini mesti dekat saling memenangkan argument sendiri-sendiri. “Sementara yangdibutuhkan adalah solusi buat warga Depok,” ulasnya.
Selanjutnya kata dia, ketiga yakni Pemkot Depok sebagai institusi yang wajib membinakerukunan umat beragama, harus ekstra tanggap dengan dinamika masyarakat yang saat ini cenderung mengeras dan ngotot pada
kebenaran versinya sendiri.
“Terakhir budayakan bahwa berbeda itu sunnatullah sejak kecil hingga selamanya, mampu bersinergi degan pihak lain walaupun ada perbedaan,”
ungkapnya. (ctr/id)
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *