Kegigihan AKP Rosana Saat Mengungkap Sabu Satu Ton di Anyer

AKP Rosana, Usai ungkap Sabu Ton di salah satu hotel di anyer

Inilahdepok.id – Siapa sangka dibalik sukses penangkapan penyelundupan sabu jaringan internasional ada peranan polisi wanita keren ini. Ya namanya adalah AKP Rosana Labobar yang saat ini sedang sedang naik daun. Wanita asal Ambon ini menjadi satu-satunya polisi wanita yang ikut dalam penangkapan jaringan narkoba internasional asal Taiwan di Anyer, Banten.

Wanita yang biasa disapa Ocha ini sekilas sama seperti polisi lainnya. Namun dibalik wajah manisnya ternyata dia adalah wanita kuat seperti wonder woman. Dia ikut dalam penyelidikan selama dua bulan kini membuahkan hasil.

Bacaan Lainnya

AKP Rosana adalah seorang Wakil Kepala Satuan Narkoba Polresta Depok. Dia memiliki satu orang putri. Sebagai seorang ibu tentunya Ocha kerap dilema ketika harus melakukan pengintaian dan tak pulang ke rumah.

Namun semua itu dia kesampingkan atas nama tugas negara. Kendati kerap meninggalkan keluarga demi tugas negara, namun Ocha adalah sosok yang taat beribadah. Baginya dengan beribadah bisa mendamaikan hatinya.

Ocha sejak dua bulan lalu melakukan pengintaian ke wilayah Anyer, Banten bersama tim gabungan Dit Narkoba Polda Metro Jaya dan Polresta Depok dibawan Pimpinan Dirnakoba Kombes Pol Nico Afinta dan Kombes Pol Herry Heriawan.

Walau hanya satu-satunya polwan dalam tim ini, Ocha tak dibeda-bedakan. Dia tetap profesional seperti anggota lainnya. Bahkan dia juga harus ikut tiarap hingga empat jam demi meringkus penyelundup satu ton sabu asal China yang diselundupkan melalui jalur laut.

Sabu itu diselundupkan oleh Lin Ming Hui dan anak buahnya yaitu Chen Wei Cyuan, Liao Guan Yu dan Hsu Yung Li, Yen Hung Chi. Sebelumnya, gerombolan Lin telah memetakan lokasi agar penyelundupan yang dilakukan berjalan mulus.

Gerombolan ini akhirnya memilih kawasan dermaga pantai di eks Hotel Mandalika Jalan Anyer Raya, Serang, Banten. Untuk menyergap gerombolan ini tentu bukan hal mudah. Resikonya pun besar. Namun AKP Rossa tak gentar. Bahkan dia menjadi garda terdepan dalam tim Satgas Merah Putih ini. “Saya berpura-pura mencari orang tua saya yang memancing. Yang boleh masuk hanya yang memancing saja,” ucap wanita berusia 30 tahun itu.

Ocha memiliki peranan penting dalam tim ini. Kendati demikian dirinya tetap rendah hati. Karena menurutnya kerjasama tim yang membuat suatu pekerjaan berhasil atau tidak. Dalam dua hari pengintaian intensif, Ocha menjadi anggota yang paling depan menginformasikan pergerakan komplotan Lin di eks Hotel Mandalika.

Ada pengalaman unik yang membuatnya tak bisa lupa. Saat tiarap berjam-jam tengah malam, salah satu anggota yang ada di belakangnya tertidur. “Saya lempar dia pakai batu biar bangun,” ceritanya tertawa.

Ocha tidak lantas marah pada anggotanya itu. Karena dia memahami bahwa anggotanya juga mengalami keletihan sangat sehingga tertidur saat pengintaian. “Saya paham hal itu. Karena dia memang sangat lelah. Tapi itu buat saya tak terlupakan. Bagaimana rasanya kita sedang ngintai tapi ada yang tertidur,” kenangnya.

Akpol tahun 2007 itu menuturkan, dirinya juga harus rela berada di semak-semak tanpa lotion anti nyamuk. Dia hanya membawa teropong malam sebagai bekal pengintaian. “Saya tiarap, pakai kaos dan celana robek-robek, tanpa lotion. Badan saya bentol-bentol,” katanya.

Tak berhenti disitu, hal serupa masih terus dilakukan pada hari kedua atau tepat pada Selasa, 11 Juli. Yang menegangkan lagi, dia berada sekitar 30 meter dari mobil para penyelundup sabu ini.

Perlahan tapi pasti, Ocha tiarap sampai bisa melihat gerak gerik gerombolan ini. Dia pun selalu menginformasikan perkembangan yang dilihatnya. Mata Ocha menjadi teropong bagi tim gabungan ini sehingga peranannya sangatlah penting. Tak sia-sia, dia melihat dua mobil masuk ke lokasi. Satu mobil masuk ke semak-semak di bagian luar hotel, dan satu mobil lainnya masuk ke dalam menuju dekat dermaga.

Satu mobil yang dibawa tersangka diparkir ke arah luar untuk memastikan tidak ada orang yang masuk ke kawasan itu. Kemudian, sebagian anggota yang mengintai sedikit menjauh dari mobil milik tersangka yang bertugas mengintai. Sejam mengintai dengan cara tiarap, Ocha melihat gerombolan ini memberi kode dengan memainkan lampu mobil ke arah laut. Dia meyakini ini kode penyelundupan sabu yang diantar melalui perahu sampan kecil dengan satu penggerak motor.

Tiba saatnya satu mobil milik tersangka telah jalan dan bereputar balik. Petugas pun bergerak menggerebek. Para tersangka melakukan perlawanan sehingga terjadi hujan tembakan di lokasi saat itu. Yang menegangkan, dirinya nyaris ditabrak oleh satu mobil tersangka. “Mereka mencoba kabur, dan saya bergulat di sana,” ceritanya

Setelah kawanan ini diamankan, dirinya pun langsung mengucap rasa syukur. Pasalnya dia merasa apa yang telah dilakukannya bersama tim membuahkan hasil memuaskan. Menurutnya, ini adalah prestasi terbesarnya dalam menjalani tugas sebagai polisi. Bahkan, penyelundupan sabu tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah penyelundupan narkoba di Indonesia.(cz/id)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *