Direktur ICIS: Kasus Marawi Harus Libatkan Tokoh Agama

Inilahdepok.id- Kasus Marawi di Filipina terus berkepanjangan dan Militer Indonesia menjaga perbatasan dengan ketat.

Menanggapi hal,  Deputi Direktur International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Dr. Arif Zamhari menilai perlu penanganan serius dari Pemerintah.

Ia menilai, tidak hanya kasus Marawi saja namun banyak kasus gerakan radikal di Luar Negeri yang harus harus mendapatkan perhatian khusus.

Hanya saja, lanjutnya, kasus Marawi berdekatan langsung dan berpotensi masuk ke Indonesia.

“Apalagi isteri  Abdullah Maute  yang menjadi tokoh sentral dari Bekasi. Kemungkinan generasi pemimpin marawi memiliki sel hidup di Indonesia. Kalau Pemerintah serius menanganinya bukanlah hal sulit dalam menanganinya. Pastinya, dengan membuat tim khusus yang  melibatkan juga seluruh unsur dari TNI, Polri dan Intelijen. Bukan hanya ego sektoral, tapi saling bergandengan tangan dan bersatu padu dengan semua pihak layaknya penanganan kasus korupsi,”ujar Direktur Kulliyatul Qur’an Al-Hikam II ini.

Arif mengungkapkan, dalam menangani kasus Marawi adalah dengan melibatkan tokoh agama. Ia menilai, penyelesaiannya bukan hanya sebatas acara seremonial dan wacana di media saja. Namun, lanjutnya, dengan memetakan daerah yang berpotensi sebagai tempat benih-benih radikal seperti di lembaga Pendidikan.

Menurutnya, langkah selanjutnya dengan mengirimkan para Da’i atau pendakwah yang moderat dengan menguatkan di grass root dan mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat.

“Melibatkan tokoh agama dengan mengirimkan para pendakwah ke tempat potensi radikal dan konflik. Tentunya, dengan mendapatkan support dari Pemerintah. Kalau para pendakwah sendiri tentunya akan kesulitan dalam anggaran. Sementara, dari kelompok ISIS mereka kemana saja karena disokong dengan dana yang tidak terbatas,”paparnya.

Menurutnya, perlunya memasukkan pendakwah di lembaga Pendidikan karena disinyalir adanya kalangan radikal yang telah masuk ke lembaga Pendidikan. Ia mencontohkan, daerah Poso, Sulawesi Utara dan daerah perbatasan langsung dengan Fiipina harus mendapatkan perhatian prioritas.

“Kampanye deradikalisasi bukan hanya seremonial saja, tapi sejauh mana pesan tersebut sampai atau tidak ke masyaakat day by day (tiap hari-red). Diharapkan, dengan hal itu bisa mencegah dan menanggulanginya. Dari sisi ideologi ada upaya pelurusan dan keamanan juga terus memantaunya,”terang Menantu Almarhum KH. Hasyim Muzadi ini.

Sebagaimana diinformasikan bahwa konflik Marawi telah merenggut nyawa lebih dari 100. Menurut data resmi, 225 gerilyawan, 59 tentara dan 26 warga sipil tewas dalam pengepungan di Kota Marawi.

Sedikitnya 30.000 warga pengungsi Marawi mencari perlindungan di Iligan City sejak eskalasi konflik bersenjata tersebut. Konflik tersebut muncul karena  ketegangan antara pasukan pemerintah Filipina dan kelompok Maute, yang berafiliasi dengan ISIS. (ctr/id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *