Marhaenisme Adalah Jiwa Bangsa Indonesia

Ilustrasi Kaum Marhaen

Perjuangan telah banyak disuarakan, tentunya dengan banyak bentuk, mulai dari perjuangan kesejahteraan, perjuangan pendidikan, dan sebagainya. Landasan yang membuat sekelompok orang untuk berjuang sebenarnya hanyalah satu, yaitu kesadaran, entah kesadaran adanya sistem yang menghisap, kesadaran adanya ketimpangan yang berlebih, kesadaran adanya akses pendidikan yang sulit, dan kesadaran lainnya.

Menjadi penting dan esensial bahwa untuk memulai perjuangan, orang yang memulai perjuangan tersebut haruslah sadar bahwa ada sistem yang sudah tidak sesuai dengan tujuan masyarakat, dalam hal ini masyarakat Indonesia yang menurut Pancasila memiliki cita-cita mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bacaan Lainnya

Pandangan Soekarno dalam ideloginya yang terkenal dengan Marhaenisme yang secara singkat menyatakan menentang adanya eksploitasi yang dilakukan suatu kelompok terhadap kelompok yang lain. Eksploitasi yang dimaksud oleh Soekarno memang pada bidang ekonomi, karena pada jaman Marhaenisme dibuat, eksploitasi yang terjadi ialah Hindia Belanda terhadap masyarakat Indonesia, terutama terhadap kaum buruh, tani, dan masyarakat tertindas lainnya yang dalam ideologi Marhaenisme dikenal dengan sebutan kaum Marhaen.

Kaum Marhean pada jaman penjajahan Hindia Belanda memang timpang dan jelas terlihat eksploitasinya apalagi kesejahteraan yang hampir tidak ada terhadap kaum tertindas. Berangkat dari kesadaran tersebut, Soekarno bersama dengan pejuang-pejuang yang sepemikiran dalam Marhaenisme yang dikenal dengan sebutan kaum Marhaenis berjuang secara bersama-sama untuk menyeimbangkan keadaan yang timpang tersebut.

Pada umumnya, suatu ideologi membatasi diri dengan ideologi yang lain untuk berjuang, namun hal tersebut tidak terjadi dalam Marhaenisme karena kaum Marhaenis haruslah berpikir untuk Sosio-Nasionalisme yang maksudnya untuk mensejajarkan semua rakyat maka tidak boleh ada sama sekali perbedaan kaum buruh, kaum tani, kaum terdidik, kaum agamais, dan kaum lainnya. Dalam Sosio-Nasionalisme semua sama rasa, sama rata dan tentu saja satu tujuan. Sosio-Nasionalisme inilah yang pada akhirnya akan lebih dikenal dengan nama gotong-royong, dimana setiap kelompok dengan kemampuan di bidang masing-masing secara bersama memperjuangkan kepentingan bersama.

Ideologi Marhaenisme sesungguhnya ialah marwah dari bangsa dan Negara Indonesia, dimana tidak adanya batas pembeda untuk semua masyarakat, hanya ada 3 kata; sadar, bersatu dan berjuang. Namun, perjuangan Marhaenisme tentu saja berbeda saat jaman Hindia Belanda dengan jaman 2017, karena Indonesia memiliki masalah yang berbeda, sistem yang berbeda, dan sebagainya dari sebelumnya. Seperti sila ketiga Pancasila yaitu; Persatuan Indonesia maka hal tersebut perlu untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari bukan hanya sekedar kata belaka.

Penting untuk masyarakat mengerti marwah dari Marhaenisme terutama saat masyarakat terprovokasi oleh pemberitaan Hoax yang mayoritas memiliki muatan fitnah, hoax, dan kebencian yang dapat meretakkan hubungan di masyarakat. Para pihak yang dengan sengaja menyebarkan berita hoax memiliki sedikitnya 2 kepentingan; ekonomi ( mencari untung dari pengelolaan berita hoax ) atau politik ( penggalangan massa untuk pembentukan opini ). Dengan banyaknya konflik horizontal yang terjadi diantara kelompok masyarakat yang tadinya tentram lalu seakan terbagi.

Peran pemerintah menjadi penting, untuk memberikan edukasi dan sosialisasi tentang pemikiran Marhaenisme dan kebangsaan Indonesia untuk menumbuhkan rasa untuk gotong royong sebagai suatu bangsa yang besar. Diskriminasi masih banyak terjadi di banyak di Indonesia, mulai dari yang minoritas, adat, dan sebagainya seperti kasus; Ahmadiyah, masyarakat Sunda yang di diskriminasi, dan masih banyak contoh lainnya. Penyebaran Hoax yang telah dijabarkan sebelumnya tentu saja memperparah keadaan dimana masyarakat di adu domba, bahkan karena penyebaran hoax terus menerus. Bahkan Mark Zuckerberg pembuat Facebook ingin datang ke Indonesia khusus untuk membicarakan kasus Hoax.

Peran masyarakat tentu saja tidak kalah pentingnya dengan peran pemerintah, organisasi masyarakat dan LSM seharusnya berperan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dengan isu hoax yang disebarkan di media sosial. Organisasi yang berdiri di Depok, Jawa Barat seperti; Gerakan Marhaen Pembela dan Cinta Tanah Air disingkat GEMPITA,  merupakan organisasi yang fokus untuk menyebarkan Marhaenisme. Salah satunya ialah memberikan edukasi dan pendidikan politik, GEMPITA berpandangan bahwa politik seharusnya berpihak pada masyarakat yang tidak mampu dengan cara gotong royong agar dapat mencapai kesejahteraan sosial dan keadilan pada setiap elemen masyarakat.  Tidak mampu bukan hanya sekedar pengertian sempit sosial ekonomi, namun kurangnya pemahaman akan wawasan kebangsaan pun merupakan ketidakmampuan yang memerlukan edukasi, dalam hal inilah GEMPITA ingin mengambil peran untuk dengan bersinergi dengan semua elemen masyarakat dan pemerintah.

Gotong royong merupakan cabang ide dari Marhaenisme yang seharusnya ada, dimengerti dan dijalankan oleh masyarakat. Isu Hoax yang berpotensi untuk memecah bangsa Indonesia dengan diskriminasi SARA merupakan ancaman serius. Hanya dengan gotong royong sesuai dengan Marhaenisme dimana perjuangan persatuan seluruh elemen dan kelompok dari masyarakat untuk menangkal apapun yang mengancam persatuan Indonesia. Edukasi dan gotong royong menjadi langkah yang strategis untuk menjadi pertahanan masyarakat Indonesia juga untuk meningkatkan rasa nasionalisme setiap masyarakat.

Oleh : Sean Matthew SH

Penulis adalah Lawyer LBH Mawar Saron Jakarta

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *