Menurunya Aksi MIT Dibarengi Munculnya Kelompok Baru, Bahrun Naim

ilustrasi teroris

Inilahdepok.id Р Beberapa tahun silam, baik Polri ataupun TNI disibukan untuk menaklukan kelompok Mujahiddin Indonesia Timur. Namun, setelah pucuk pimpinan MIT, Santoso alias Abu Wardah mati dan para petingginya tertangkap, kelompok ini mulai dianggap sebelah mata aksi ancaman dan terornya.

Sekarang, pemerintah difokuskan  menghadapi kelompok lain Bahrun Naim. Dia merupakan pentolan Negara Islam Irak dan Suriah yang berasal dari Indonesia. Di Indonesia, Bahrun juga memiliki sel-sel jaringan yang belakangan mulai menunjukan aksinya dan beberapa diantaranya telah tertangkap.

Bacaan Lainnya

“Penangkapan di Bekasi bentuk legitimasi bagi aparat keamanan untuk menyatakan kelompok ini masih eksis dan masih terus menghubungkan dirinya dengan ISIS,” ucap Khairul Fahmi selaku pengamat intelijen dari Institute for Security adan Strateegic Studies, Minggu (11/12). Seperti dilansir jawapos.com

Bahkan dia menyebut kelompok ini adalah energi baru kelompok teror di Indonesia. Menurut dia, pasca-kematian Santoso, sisa-sisa anggota MIT ikut bergabung ke kelompok Bahrun Naim.

“Dugaan ini diperkuat dengan temuan bom berdaya ledak tinggi di lokasi penangkapan. Sebelum kocar-kacir, MIT sempat diklaim memiliki akses terhadap persenjataan berdaya ledak tinggi. Sementara kelompok Bahrun Naim selama ini diketahui asyik bermain petasan,” jelas dia.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, di sisi lain, konsolidasi kelompok kanan yang sukses melalui aksi 411 dan 212 juga melahirkan kegairahan baru.

“Apa yang disebut sebagai muslim ‘anyaran’, berpotensi salah jalur dan justru ‘terekrut’ oleh kelompok-kelompok ‘baru’ yang terafiliasi dengan jaringan teror,” ucap dia.

Menurut Khairul, aktivitas yang menguat dengan energi-energi ‘baru’ pasca MIT, ditambah kompetisi dengan ASG, membawa konsekuensi eskalasi potensi ancaman teror di Indonesia.

“Tentu saja, sasaran prioritasnya tetap. Area publik, fasilitas pemerintah, keamanan dan keagamaan yang rawan dan kurang waspada, terutama di ibukota negara. Secara acak akan paling berpeluang mendapat serangan simultan melibatkan bom berdaya ledak tinggi maupun rendah, senjata api dan sarana lainnya. Ancaman hari ini terhadap istana tentu saja sangat mudah dikaitkan dengan itu,” dia memaparkan.

Bagi dia, untuk mengatasi hal itu, memang aparat keamanan harus meningkatkan kewaspadaan dan membagikannya dengan masyarakat.

“Tapi jangan berandai-andai ISIS menginfiltrasi ormas. Bedakan radikalisme dengan ekstrimisme. Kecuali para pemangku kepentingan lebih tertarik memikirkan cara menghegemoni kelompok kritis dan menghantui warga, ketimbang penanggulangan terorisme yang konkrit,” tambah dia menjelaskan.

Selain itu, ancaman terhadap Istana Negara yang notabene berada di bawah tanggung jawab Paspampres, jangan kemudian dibawa ke dalam isu berlarutnya pembahasan RUU Anti Terorisme yang diwarnai polemik soal peningkatan peran TNI dalam pemberantasan teror.

“Penegakan hukum, peran intelijen dan komunikasi politik pemerintah harus dikedepankan. Bagaimanapun, perang global melawan terorisme telah gagal. Bukannya mereda, kelompok teror bahkan bermetamorfosis menjadi kelompok aksi insurgensi dengan persenjataan memadai, dukungan logistik dan teroganisir rapi,” ujar dia.

Kemudian dia menyinggung soal insurgensi, menurut dia, tentu saja lawan efektifnya adalah operasi militer. “Apakah ini semua hendak mengarah dan digiring ke sana? Semoga tidak,” ucap dia.

“Biayanya sangat mahal dan lebih baik digunakan untuk memperkuat daya tahan masyarakat. Karena virus terorisme masih akan tetap eksis selama kita belum bisa menghilangkan ketidakadilan, kesenjangan, kemiskinan dan kebodohan,” dia memungkas. (ctr/id/jpg)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *