Perda “Sampah” Kota Depok Mandul

Ilustrasi

inilahdepok.id – Anggota Komisi C DPRD Kota Depok Sri Utami menilai pemerintah belum bisa maksimal dalam menegakan peraturan daerah Kota Depok soal persampahan alias mandul.

Sehingga kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA)  Cipayung, melebihi muatan dan sulit dijejali sampah lagi.

“Perda yang dibuat belum efektif ditegakan. Sehingga over kapasitas sulit dihindari,” kata Sri Utami, kepada inilahdepok.id(28/10).

Ia mengungkapkan, mengacu pada perhitungan yang tertuang di Perda nomor 5 tahun 2014. Tentang persampahan, mestinya daya tampung TPA Cipayung masih mampu bertahan selama lima tahun ke depan.  Setelah perda tersebut ditegakan sejak 1 Januari 2016.

Dalam aturan di Perda Persampahan, sampah di perumahan tidak bisa diangkut jika belum melakukan pemilahan.

Kenyataannya,  tidak ada perumahan yang melakukan pemilahan dan sampahnya tetap diangkut.

“Seharusnya tidak boleh diangkut,” ucapnya.

Target Perda Persampahan bila dilaksanakan dengan baik hanya menampung sampah ke TPA Cipayung sebanyak 15 persen. Kata dia, dari total sampah warga Depok, yang mencapai 1.225 ton per hari.

Tapi, sekarang sampah masih masuk sedikitnya 700-750 ton per hari ke TPA Cipayung.

Dari kajian pemerintah dalam perda tersebut, seharusnya sampah juga bisa diolah dan ditampung di bank sampah dan unit pengolahan sampah.

Pemerintah menargetkan 85 persen sampah bisa diolah di rumah tangga, bank sampah dan UPS.

“Kalau efektif bank sampah diolah 25 persen ditampung bank sampah, UPS 60 persen. Sisanya residu dibuang baru ke TPA Cipayung. “Masalahnya aturan persampahan belum digalakan benar oleh pemerintah.”

Karena penegakan perda tidak berjalan, kata dia, imbasnya daya tampung TPA sudah melebihi kapasitas dari waktu yang telah diperkirakan sebelumnya.

“Kalau dari 2015 hanya 15 residu yang terbuang di TPA, sampai 2020 masih mampu menampung sampah warga Depok,” ujarnya.

Ia melanjutkan sudah mestinya Depok menciptakan konsep pembangunan green city dalam program jangka menengah dan panjang.

Pendidikan tentang konsep green city mesti sudah masuk ke dunia pendidikan.

“Kalau terlambat, Depok sulit menangani sampah karena jumlah warganya terus meningkat,” ujarnya. (ctr/id)

LEAVE A REPLY