Pesatnya Teknologi Acam Prilaku Anak

Ilustrasi

Fenomena pergaulan anak sekarang dibandingkan anak sebelumnya, sangat jauh. Hal itu dikarenakan perubahan zaman, dimana informasi saat ini mudah diakses dari berbagai alat ganget.   Sehingga secara otomatis ada plus dan minus terhadap perkembangan pertumbuhan anak.  Hal itu dikatakan, kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (BPMK) Kota Depok,  Eka Bachtiar.

“Anak dulu dan sekarang tentu berbeda, artinya sifat dan pergaulanya,” kata Eka kepada inilahdepok.id

Menurut dia, anak di era sekarang bisa disebut era milienium. Berbeda dengan anak di zaman di bawah tahun 2000, dimana informasi belum seperti sekaran saat ini.

“Seperti televesi dulu hanya satu chanel. Jadi perekembangan informasi kurang. Bahkan, menurut saya perkembangan teknologi mempengaruhi sikap anak,” katanya.

Namun, hal itu kembali lagi ke para orangtua untuk mendidik anak dalam rumah tangga.  Dengan melihat kondisi sekarang saat ini, kata dia, ketahanan keluarga bisa menyelamatkan anak dari pergaulan di era global ini.

“Saat ini  Pemerintah pusat dan daerah blm konsen terhadap prefentif kekerasan terhadap anak. Karena kasusnya bermacam-macam. Tapi yang ada kami konsen RPJMD dan RPJMN, untuk pencegahan belum mencapai ke situ, karena propoganda dari luar sangat kuat,” bebernya.

Seperti contohnya, prilaku anak bisa dilihat dengan kultur daerah. Bila kultur suatu daerah baik maka, akan berpengaruh ke anak. Bahkan, lebih lanjut makanan juga bisa mempengaruhi anak, tapi dengan jangka waktu lama, secara signifikan.

“Informasi sangat pengaruhi prilaku moral. Karena anak masih labil diusia 17. Dalam Undang-Undang nomor 35 Tahun 2013, dan devinisi anak di konfensi disebut anak dari umur 0-18 tahun, bahkan di dalam kandungan termasuk,”

Selain itu, kata dia lagi, laju pertumbuhan kota -kota besarjuga bisa mempengaruhui anak.

“Ekonomi dan teknologi dampak besar. Orangtua  harus dimanfaatkan secara bijak, untuk mendidik anak,” katanya.

Sementara itu, ketua Komisi D DPRD Kota Depok, Lahmudi menilai internet yang mudah diakses dengan cepat dan mudah saat ini berdampak prilaku anak.  Sebab, semua ada di internet terkait informasi perkembangan zaman.

“Ini peran orang tua untuk mengawal. Nah, kalau memang tidak mampu mengontrol anaknya sebaiknya jangan dilengkapi fasilitas yang merugikan,” kata Lahmudin.

Selain itu, peran pemerintah mampu memberikan kontrol dan mengajak masyarakat.

“intinya pemerintah jangan pernah bosan melakukan ini,” katanya.

Lebih lanjut, untuk mengantisipasi hal-hal yang posistif di perekembangan zaman sekarang.

“Menurut  perlu meningkatkan iman dan back to religi,”  katanya.

Secara terpisah, Guru Besar IPB, Ikue Tanzila, mengatakan, perbedaan anak saat ini berbeda sekali. Dalam sisi agama, budaya, sosial dan kesehatan.

Dari segi budaya sebelumnya, kata dia,  kental dengan budaya lokal karena belum banyak informasi di dapat.

“Dan prilaku juga sesuai kearipan lokal. Tapi kalau sekarang banyak informasi yang terserap, bahkan di era  global ini  terjadi pergesaran  yaitu budaya  global dari segi sikap prilaku,” kata Tanzila.

Sehingga cendrung prilaku anak saat ini, lebih ke sifat individual dan sifat sosialnya berkurang.

“Antisipasinya adalah adanya penguatan ketahanan keluarha dan membangun kota layak anak.  Dengan segala kebijakan yang mendukung perbaikan tumbuh kembang anak,” kata dia.

Mengembangkan kota layak anak kata dia,  dimaksudkan yaitu  mengembangkan lingkungan yang konsdusif untuk tumbuh kembang anak.  Dimana dimulai, dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan tempat bermain. Serta  yang lebih luas lagi ligkungan sekitarnya seperti lingkungan desa, kecamatan maupun kabupaten dan kota.

“Seperti adanya perhatian pemerintah terhadap warnet sehat, internet sehat.  Perundang undangan yang  menolak perzinahan baik antar jenis maupun antar sesama seperti LGBT,” katanya.

Lalu kata Tanzila dikuatkan lagi fungsi  keluarga, yaitu diantaranya fungsi keamanan dan kasih  sayang.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang  mudah terpengaruh adalah anak yang kurang perhatian dan kasih sayang dari orangtua,” bebernya.

Jadi lebih lanjut, harus ada penguatan dari sisi anak,  harus ada faktor pendukung dari sisi keluarga.

“Lalu   harus ada faktor pendukung  dari sisi pemerintah  dan masyarakat sekitar,” tutupnya. (ctr/id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *