Pernikahan Dini Karena Faktor Tidak Stabilnya Pemikiran

Gambar ilustrasi pernikahan dini

Inilahdepok.id – Fenomena pernikahan dini di kalangan masyarakat pada umumnya selalu terjadi. Dikarena beberapa faktor, salah satunya adalah ketidak stabilan pemikiran anak remaja.  Hal itu diungkapkan, Seketaris Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (BPMK) Depok, Erry Sriyanti.

“Pemikiran tidak seimbang,  labil dan tuntunan jiwa. Karena pernikahan atau menikah itu indah.  Jadi mereka tidak tahu, sehingga tidak mempertimbangkan,” kata Erry kepada kepada inilahdepok.id

Pernikahan dini, kata dia, rentan menyebabkan perceraian. Dikarenakan karena faktor kelabilan dan pergaulan di lingkungan.

“Faktor lingkungan, budaya hidup. Seperti acara di  televisi yang rutin ditonton.  Nah, dari itu mereka  terpacu di otaknya ingin menjadi seperti yang ada di televisi. Kalau di kota, faktor ekomomi sangat lah kecil,” tuturnya.

Menurut dia, Badan Kependudkan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatur di atas usia 20 tahun boleh bisa menikah. Itu untuk usia perempuan. Tapi, kalau untuk laki-laki diusia 25 tahun.

“Anak belasan tahun belum bisa. Karena belum matang pemikiran,  fisik dan mental. Itu asalanya, tapi kalau hukum syari atau agama beda lagi urusanan,”katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan,  definisi anak dalam Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002. Adalah seseorang berusia 18 tahun dan dalam kandungan  itu, disebut anak.

“Jadi usia di bawah 18 tahun itu dikatakan anak. Kalau mereka menikah dan memiliki anak. Otomatis jadi anak ngasuh anak,” tuturnya.

Maka dari itu, fenomena ini harus di menjadi perhatian. Tapi BPMK  kata dia, ada ketahanan keluarga untuk mengatasi pernikahan dini.

Dimana, ketahanan keluarga dicantumkan dalam Undang-Undang (UU)  Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009. Tentang Kependudukan dan Pembangunan keluarga.

Kata dia, dalam UU itu keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, istri, dan anak.

“Pencegahan pernikahan dini, bisa ditekan. Kalau  ada Perda ketahanan keluarga,  lebih bagus,” katanya.

Dihubungi Terpisah, ketua Komisi D, Lahmudin mengatakan, dalam pembahasan perda ketahanan keluarga yang akan dikeluarkan Komisi D.  Tidak ada pembahasan soal pernikahan dini.

Tapi Perda inisiatif ini  kongkretnya bagaimana sebuah keluarga dibangun sejak awal.

“Dalam Perda inisiatif 34 pasal. Semuanya lebih intens perkawinan dan mengasuh anak. Inilah pondasi dasar,” kata Lahmudin.

Soal pernikahan dini tidak dimasukan dalam Perda inisiatif.  Tapi kata polisitisi PAN,  ada beberapa faktor pernikahan dini, salah satunya hamil di luar nikah yang paling banyak.

“Pernikahan dini banyak terjadi. Dikarenakan hamil duluan. Ada kaitan juga di perda inisiatif,” pungkasnya(ctr/id)

LEAVE A REPLY